Rabu, 14 September 2011

Mengapa Samsung lebih membutuhkan bada untuk masa depannya daripada Android?


Samsung baru-baru ini telah memperkenalkan jajaran smartphone Wave baru yang menjalankan platform mobile bada milik mereka sendiri. Samsung juga telah menjanjikan akan mengupdate semua handset Wave yang telah ada di pasaran ke versi software yang lebih baru selama akhir tahun ini. Jadi sebelum tahun 2012, semua model smartphone Wave, baik yang lama maupun yang baru diluncurkan, baik yang bertipe high-end maupun low-end, akan sama-sama menjalankan software berbasis bada 2.0.

Samsung merilis smartphone pertama yang berbasis bada pada pertengahan akhir 2010, jauh sebelum kesepakatan yang terjadi antara Google-Motorola. Smartphone bada pertama - Samsung Wave (model: GT-S8500) - mendapat tanggapan yang positif dari sebagian besar media yang mengulasnya sebagai ponsel pertama yang menggunakan layar Super AMOLED dan prosesor Hummingbird, semuanya adalah produk kebanggaan Samsung sendiri.

Banyak yang menyebut platform bada sebagai OS Mobile yang “clean and easy to use” sesuai target Samsung agar smartphone bada bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari yang tua hingga yang muda, dari orang awam hingga mereka yang profesional, atau istilahnya mendemokratisasi pasar smartphone dengan slogannya “Smartphone for Everyone”. Kehadiran bada 2.0 selain sebagai revisi dari versi sebelumnya, juga menambahkan kemampuan multi-tasking secara penuh, NFC, Adobe Flash, Wi-Fi direct, kompatibilitas dengan aplikasi berbasis Web, dan ChatON, layanan messaging lintas-platform baru dari Samsung.

"Langkah ini menunjukkan pemahaman dari Samsung bahwa masa depan tidak bisa hanya soal hardware," kata John Jackson, analis untuk CCS Insight. "Mereka harus menemukan beberapa cara dari mereka sendiri yang memungkinkan untuk menjalankan hardware mereka."

Dalam kasus Samsung, Jackson mengatakan satu kemungkinan yaitu bahwa mereka sedang mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melintasi semua produk hardware mereka, yang memungkinkan integrasi antara perangkat mobile dan semua perangkat hiburan di rumah seperti TV, notebook/PC, BluRay player, Home Theater, kulkas, mesin cuci, dll. Sama seperti Apple dan Google yang telah mencoba untuk menggunakan keuntungan mereka di dunia mobile untuk menyusup ke ruang keluarga melalui Apple TV dan Google TV, Samsung bisa menggunakan bada untuk mencoba mengembangkan sebuah link yang kuat yang menghubungkan antara ponsel dan sistem hiburan rumah yang canggih.

Jackson menambahkan bahwa OS buatan sendiri akan memberikan perusahaan seperti Samsung pada sesuatu yang lebih yang tidak akan mereka dapatkan dari Android, yaitu kontrol. William Sylvester, Direktur Konten dan Jasa dari Samsung Elektronik Prancis mengatakan: “Bada adalah sangat strategis bagi kami. Sedangkan Android bukan tanggung jawab kami, karena pesaing kami juga bekerja pada Android. Google mungkin sangat menguntungkan buat kami untuk saat ini, namun siapa yang bisa menjamin 2 atau 3 tahun lagi?”

Managing Director Samsung Mobile Inggris dan Irlandia Simon Stanford mengatakan: "Sementara kami akan terus bekerja sama dengan mitra termasuk Google dan Microsoft, bada akan menjadi fokus terbesar bagi kita di masa depan karena kami sedang bekerja untuk membuat platform mobile terkemuka."

Sementara Vice chairman Samsung Electronics Choi Gee-sung menyatakan akan terus bekerja meningkatkan kemampuan software bada miliknya secara "lebih keras dari orang pikir diluar”: "Orang-orang menyatakan kekhawatirannya bahwa Samsung tidak bisa memimpin dalam hal industri software, tapi saya ingin memberitahu mereka untuk tidak perlu khawatir. Ini tidak akan lama, yang berarti hasilnya akan bisa dilihat dalam jangka 1-2 tahun." Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Chairman Samsung Lee Kun-hee kepada jajaran eksekutifnya: "Kita harus melihat kenyataan bahwa kekuasaan telah bergerak menjauh dari perusahaan hardware seperti Samsung ke perusahaan software."

Selanjutnya, Jackson juga menunjukkan bahwa agenda strategis jangka panjang Samsung pada akhirnya juga akan menuju ke arah benturan persaingan dengan Google, bahkan sebelum kesepakatan akuisisi dengan Motorola terjadi.

"Di beberapa titik, jika dalam agenda strategis Anda memasukkan juga adanya pengembangan konten dan layanan, Anda mungkin akan bersaing dengan Google. Apakah itu risiko yang dapat Anda rasionalisasi? Itu adalah pertanyaan untuk orang-orang ini," kata Jackson.

Chairman Google Eric Schmidt sendiri menyatakan pembelian Motorola tidak hanya masalah paten, tetapi juga hardware yang dimilikinya: “Kami melakukannya untuk lebih dari sekedar paten. Kami benar-benar percaya bahwa tim Motorola memiliki beberapa produk yang menakjubkan yang akan segera hadir .... Kami sangat gembira sekarang bisa memiliki lini produk sendiri, dengan menggunakan merek Motorola, arsitektur produknya, para insinyurnya. Orang-orang ini sebelumnya bekerja pada produk RAZR. Kami tahu mereka dengan baik karena mereka pengguna aplikasi Google.... Kami ingin memiliki setidaknya satu wilayah di mana kita dapat mengintegrasikan hardware dan software secara terpadu.”

Pertanyaannya sekarang adalah apakah bada bisa bersaing dengan platform mobile lainnya yang lebih dulu eksis? Persaingan umumnya mengarah ke produk yang lebih baik yang tersedia di toko, namun tentu saja buat produk yang tidak sanggup bersaing akan tersingkir, dan proses ini bisa sangat menyakitkan. Nokia maupun Palm/HP sudah merasakan bagaimana OS kebanggaan mereka – Symbian dan WebOS – secara perlahan ditinggalkan penggunanya. Kehadiran begitu banyak platform mobile, toko aplikasi, dan interface yang berbeda mungkin akan membingungkan pengguna. Ada Apple iOS, Google Android, RIM QNX atau BlackBerry OS, Samsung bada, Windows Phone 7, MeeGo dan WebOS, belum lagi datang pemain baru yang tak terduga seperti Aliyun OS dan Baidu Yi dari China, akan membuat pilihan menjadi sangat memusingkan

Seakan belum cukup untuk berpikir tentang masalah ini, Jackson sudah bergerak maju dengan analisanya, bahwa OS besar/pemenang tidak akan selalu menjadi faktor paling penting dalam perang smartphone saat ini. Dengan perusahaan lainnya juga menggunakan teknologi baru seperti HTML5 untuk konten dan aplikasi, Jackson berpikir kalau sistem operasi mobile tidak akan membuat smartphone individu yang menonjol di masa depan seperti yang terjadi sekarang ini.


Mungkin Samsung telah mengetahui analisa ini jauh-jauh hari. Jadi saat bada 2.0 sudah tersedia di semua smartphone Wave pada akhir tahun ini, diharapkan sudah siap menerima konten dan aplikasi berbasis HTML5 sepenuhnya. Ketika platform mobile baru terus bermunculan di masa depan, di lain pihak tool pengembangan konten dan aplikasi akan semakin seragam. Google butuh mitra hardware terpercaya, sedangkan Samsung butuh platform software yang bisa dikontrol sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar