Senin, 28 Januari 2013

Bagaimana Samsung mengambil pelajaran dari kejatuhan Apple


Apple, merek favorit dikalangan penikmat gadget fashion, kini mulai mengalami kesulitan. Harga saham perusahaan turun lebih dari 12 persen pada Kamis kemarin. Dibandingkan dengan rekor tertinggi pada 21 September yang lalu, produsen iPhone ini telah kehilangan lebih dari sepertiga dari kapitalisasi pasarnya hanya dalam empat bulan. Analis bergegas untuk memotong target harga saham Apple, dan menyatakan keajaiban Apple telah berakhir. Saham Apple tenggelam sejak mereka kehilangan bos mereka Steve Jobs 15 bulan yang lalu.

Jatuhnya Apple secara dramatis dari pasar mulai meningkatnya kecemasan. Investor sekarang lebih waspada terhadap prospek Apple kedepannya. Steve Jobs sebelumnya berhasil membangkitkan kembali kejayaan Apple melalui inovasi tandingannya setelah inovasi sebelumnya. Dia berhasil membuat pasar selalu menunggu dan berharap dengan setiap produk baru. Tapi pasar mulai menjauhi iPhone terbaru seri 5, dengan menyebutnya absen dari segala yang baru atau inovasi. Beberapa bahkan cemas dengan kebiasaan Apple yang selalu eksklusif dan tertutup, ketakutan akan bencana komputer Macintosh di masa lalu akan kembali terulang. Investor, ahli IT dan konsumen semua ketakutan bahwa inovator menakjubkan dan trendsetter ini sekarang telah berubah menjadi sebuah perusahaan yang mencari laba biasa-biasa saja seperti lainnya.

Beberapa langsung melompat kepada kesimpulan bahwa kejatuhan Apple bisa menjadi keuntungan bagi pesaing terbesarnya Samsung Electronics. Apple sebagai pelari terdepan mungkin masih menganggap strategi mereka masih berlaku seperti saat pertama menuju industri smartphone. Pasar smartphone high-end di negara maju kini sudah jenuh, dan ponsel dengan harga premium tidak bisa terjual dengan bamyak keuntungan di pasar negara berkembang seperti China. Kompetisi kemungkinan akan lebih sengit di pasar dengan ketersediaan semua lini smartphone yang ada, dari low-end hingga high-end.

Sejarah industri berulang. Setelah perusahaan mencapai puncak kesuksesan dengan terobosan yang menakjubkan dalam pengembangan teknologi, pesaingnya langsung mencoba untuk menyamai atau mengalahkannya dengan produk sejenis. Industri ini berkembang melalui kompetisi dan inovasi baru. Setiap dinding proprietary, dilain pihak, tidak akan bisa menghentikan evolusi teknologi saat ini. Untuk bisa tetap selaras dengan selera konsumen, perusahaan harus terus-menerus berinovasi dan membuka jalan bagi kesuksesan dengan berusaha untuk tetap di depan jika mereka tidak mau ketinggalan.

Jangka waktu untuk naik dan turun dalam industri IT kini semakin pendek. Kadang-kadang sulit untuk menguraikan apakah teknologi tertentu bisa membuka pasar baru atau berakhir dengan sia-sia. Peluang serta risiko menjadi lebih besar. Nokia dan Sony - yang pernah menjadi pemimpin dalam bisnis IT - kini semuanya jatuh di belakang. Dan bukan sesuatu yang tidak mungkin jika suatu saat nanti Apple akan bergabung dengan mereka. Posisi Apple kini di persimpangan jalan.

Samsung Electronics sendiri juga tidak bisa berlama-lama untuk menikmati manfaat yang tak terduga dari kejatuhan Apple. Mereka harus terus menjaga mata mereka tetap terbuka. Perusahaan teknologi dari China bisa dengan cepat muncul dengan produk-produk inovatif mereka. Tidak ada yang dapat mengatakan siapa yang akan menjadi pemenang pada akhir tahun ini atau berikutnya. Tapi satu hal yang jelas: Tidak ada masa depan tanpa inovasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar