Senin, 19 Maret 2012

Samsung berniat merilis source code bada di bawah lisensi open source?


Untuk memperluas cakupan wilayah dari ekosistem smartphone miliknya, Samsung kemungkinan akan menyiapkan platform bada untuk membukanya kepada pengembang luar. Kang Tae-jin, Senior Vice President of Samsung Contents Planning Team, saat di Mobile World Congress (MWC) 2012 yang berlangsung di Barcelona pada akhir Februari kemarin sempat mengatakan kepada pers bahwa Samsung berencana akan merilis source code bada di bawah lisensi open source.

"Kami mengembangkan bada dengan tujuan membuka peluang sejak awal," kata Kang. "Kami akan mengkonsolidasikan dengan platform lain dan membukanya pada waktu yang tepat." Dia tidak merinci kapan tanggal yang dimaksud.

Pernyataan ini mungkin mengisyaratkan pada penggabungan software, dan ini terjadi kurang dari enam bulan setelah Samsung mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa mereka berencana untuk membuka bada untuk pengembang luar. The Wall Street Journal melaporkan pada September tahun lalu bahwa ini diperkirakan akan terjadi tahun ini.

Pengamat industri mengatakan Tizen merupakan kandidat yang sangat mungkin untuk penggabungan software ini, mengingat bahwa sebelumnya Kang dalam sebuah wawancara di pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2012 dengan Elizabeth Woyke, staf wanita keturunan Korea dari Forbes, pada bulan Januari yang lalu mengatakan: "Kami akan berusaha untuk menggabungkan bada dan Tizen."

Kang juga mengatakan bahwa selama pasca-integrasi, pengembang bada dan Tizen akan diberikan tool software yang sama (SDK dan API). Dan ketika proses integrasi selesai, Tizen akan mendukung aplikasi mobile yang dibuat dengan bada SDK. Dukungan juga akan mencakup "backwards compatibility" untuk aplikasi bada yang telah diterbitkan sebelumnya.

Tizen adalah platform software open source yang didasarkan pada sistem operasi Linux yang didukung oleh Linux Foundation dan diwakili oleh Tizen Association dalam industri. Tizen lahir dari OS Samsung Linux platform (SLP). Sistem operasi ini menggabungkan sejumlah modul seperti manajemen jaringan dari proyek MeeGo, kombinasi dari sistem operasi mobile Moblin, yang diciptakan oleh Intel, dan Maemo, yang diciptakan oleh Nokia. Pengembangan Tizen dipimpin oleh perusahaan yang berkumpul di sekitar Tizen Association, yang dipimpin oleh Samsung dan Intel. Perangkat pertama yang menggunakan sistem operasi baru ini diharapkan akan diluncurkan ke pasar di pertengahan tahun ini, sementara Intel juga menargetkan adanya tablet berbasis Tizen di tahun ini.

Mengenai pernyataan Vice President Kang ini, juru bicara dari Samsung Electronics pada hari Rabu yang lalu mengatakan bahwa Tizen hanyalah salah satu dari beberapa pilihan Samsung ketika menjelajahi harapan untuk mengembangkan dan mempromosikan bada, dan penggabungan itu sangat tidak mungkin karena Samsung telah mendesain proyek Tizen untuk kemitraan dengan perusahaan lain. Dia memperjelas semuanya, dan menambahkan bahwa bada merupakan bagian terpenting dari proyek saat ini dan telah menjadi acuan dalam pengembangan teknologi software Samsung.

Pengembang Samsung sendiri berharap Tizen akan bisa menjadi jalan pembuka buat bada untuk menembus negara-negara yang selama ini sulit menerima pengaruh software baru dari luar seperti di Amerika Serikat dan Jepang. Dengan dukungan banyak vendor dan operator global, Tizen yang bersifat open source akan lebih mudah diterima oleh komunitas pengembang dan konsumen lokal. Tidak bisa dipungkiri, komunitas pengembang aplikasi global lebih banyak didominasi oleh negara-negara maju di bidang teknologi software, terutama Amerika Serikat. Sejarah telah membuktikan bagaimana platform Symbian Nokia yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa sukses di negara Paman Sam.

Di Barcelona, Senior Vice President Kang juga menekankan pentingnya mengembangkan platform milik sendiri untuk smartphone, sambil mengatakan, "Android adalah sistem operasi global tetapi lebih dari setengah dari aplikasinya tidak bisa bekerja pada smartphone Samsung." Saat ini, meskipun Samsung menjadi vendor smartphone terbesar di dunia, tapi hampir sebagian besar masih sangat bergantung pada platform Android dari Google. Untuk itu, Samsung akan terus mencari cara untuk melepaskan ketergantungan ini.

Platform Android juga telah membuat Samsung terperangkap dalam berbagai sengketa paten terkait software. Hal ini mendorong Samsung untuk menjalin kesepakatan lisensi paten dengan Microsoft untuk membayar royalti untuk setiap smartphone dan tablet Samsung yang menjalankan platform Android. Microsoft mengatakan kalau mereka memiliki berbagai paten yang digunakan dalam platform Android, dan di bawah perjanjian lisensi, Samsung wajib membayar uang royalti ke Microsoft setiap kali menjual satu perangkat berbasis Android. Tidak hanya itu saja, Samsung juga harus sering keluar masuk pengadilan karena adanya klaim paten dari Apple pada perangkat Android mereka yang tentu saja akan merugikan Samsung dalam jumlah yang tidak sedikit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar