Sabtu, 05 Mei 2012

Perkuat software, Samsung rekrut engineer asing dan akuisisi perusahaan lain

Presiden Samsung Mobile, JK Shin (memegang mike), bersama dengan Lee Young-hee (disebelah kanannya), wakil presiden senior bagian pemasaran dan penjualan.

Samsung Electronics telah lama menjauhi bantuan dari luar demi mengembangkan smartphone sendiri. Namun, setelah penekanan pasar smartphone dengan cepat bergeser dari hardware ke software, produsen asal Korea ini mulai menyadari untuk secepatnya mengubah budaya mereka selama ini yang sebelumnya hanya merekrut pekerja berkebangsaan Korea.

Samsung telah mulai agresif mempekerjakan insinyur software asing, terutama di India, untuk membangun kecakapan software dan mengimbangi peningkatan pesat dari saingan utamanya Apple dengan produk iPhone nya yang makin populer. Samsung juga juga siap untuk melakukan akuisisi perusahaan lain, sebuah pembalikan strategi untuk sebuah perusahaan yang telah menjadi raksasa manufaktur dengan mengembangkan hardware sendiri untuk produk-produknya selama ini.

"Industri teknologi berkembang sangat cepat dan terlalu banyak beban untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri," kata JK Shin, Presiden dari Samsung Mobile. "Ada banyak pekerja berkualitas dari India yang sangat terampil dalam software dan ada perusahaan kecil yang dapat kita akuisisi yang memiliki kemampuan riset dan pengembangan yang bagus."

Presiden Shin mengatakan bahwa Samsung saat ini sudah dalam pembicaraan dengan beberapa perusahaan software.

"Jika kesempatan memungkinkan, kita akan melakukan beberapa M&A [Mergers and acquisitions]," katanya. "Ada sesuatu yang sedang kita kerjakan sekarang," katanya sambil menolak untuk memberikan nama dari target akuisisi Samsung.

Namun ia membantah rumor pasar bahwa Samsung akan mengakuisisi peruhaaan Kanana pembuat BlackBerry Research In Motion Ltd. yang bisa memberikan akses ke operasi software RIM yang selama digunakan pada smartphone untuk segmen bisnis.

Tapi munculnya smartphone, di Apple iPhone tertentu, telah menjelaskan bahwa perangkat lunak akan mendorong penjualan.

Penekanan pada software telah mengambil urgensi baru selama tahun lalu setelah pemilik sistem operasi Android, Google Inc, mengumumkan mereka akan mengambil alih perusahaan hardware Motorola Mobility Holdings Inc. Juga tahun lalu, Nokia dan Microsoft Corp meluncurkan kemitraan untuk bersama-sama mengembangkan smartphone berbasis software Microsoft Windows Phone. Research In Motion akan keluar dengan sistem operasi baru yang disebut BlackBerry 10. Semuanya ini, termasuk bisnis Apple, telah menjelaskan bahwa software adalah pendorong utama dari penjualan.

Sementara dilain pihak Samsung telah mengembangkan software internal mereka sendiri selama bertahun-tahun, platform mobile yang disebut bada masih belum populer di kalangan konsumen yang selama ini selalu berkiblat kepada Amerika. Sehingga sebagian besar smartphone Samsung masih didominasi oleh software Android.

Lee Young-hee, wakil presiden senior bagian penjualan dan pemasaran, mengatakan bahwa Samsung sementara ini akan terus bekerja dengan Android karena merupakan platform yang paling populer saat ini. Namun, strategi perusahaannya adalah untuk bekerja dengan beberapa platform software, dan untuk itu mereka akan terus melakukan investasi di bada, katanya. Dan Samsung akan terus bekerja sampai bada menjadi platform software utama mereka.

"Samsung dapat mengambil manfaat dari beberapa kemampuan software mereka sendiri yang akan memberikan kontrol hardware, software dan layanan yang lebih besar [seperti halnya Apple], tetapi mengeksekusi sendirian adalah sesuatu yang sulit," kata Neil Mawston, direktur eksekutif di firma riset pasar Strategy Analytics.

Saat meluncurkan smartphone Android terbaru, Galaxy SIII kemarin, Presiden Shin memberikan poin khusus pada perangkat sebagai contoh penekanan baru Samsung pada software, bukan lagi hardware. Walaupun smartphone ini berbasis sistem operasi Google Android, Presiden Shin mengatakan bahwa engineer Samsung telah mampu untuk membuat software untuk fitur baru yang tidak ada di standar Android seperti salah satunya yang memungkinkan pengguna untuk menonton video klip saat mengirim email pada layar yang sama. Ponsel ini juga memiliki kemampuan deteksi wajah, berikut gerakan mata pengguna untuk menyalakan ponsel.

Hal ini akan membuat pengguna menjadi lebih akrab dengan fitur pada smartphone Samsung yang tidak ada pada perangkat Android lainnya. Dengan membuat fitur yang sama (termasuk user interface yang digunakan) pada semua smartphone Samsung dengan sistem operasi yang berbeda, secara perlahan pengguna akan lebih akrab dengan fitur dan UI pada smartphone Samsung, bukan pada sistem operasi yang digunakannya. Ini adalah strategi jangka panjang dari Samsung untuk menjadi perusahaan yang bisa mengintegrasikan software, hardware dan layanan, seperti Apple, tanpa tergantung pada pihak lain, termasuk Google.

Mempekerjakan engineer asing adalah topik sensitif di Korea Selatan, di mana konglomerat besar diharapkan dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi pekerja di negara itu. Sementara pengangguran di Korea saat ini hanya 3%, tingkat pengangguran untuk lulusan perguruan tinggi adalah sekitar 8%.

Untuk engineer software asing, Samsung membayar mereka lebih banyak dari yang mereka bisa peroleh di negara mereka sendiri, dan buat mereka yang akrab dengan situasi ini mengatakan sudah ada ratusan orang India sekarang bekerja bersama karyawan lokal Korea di markas Samsung Mobile di Suwon. Samsung saat ini memiliki dua pusat penelitian dan pengembangan (R&D) besar di India, dan agresif dalam mempekerjakan pekerja asing di Korea adalah perubahan besar bagi Samsung. Samsung tidak akan mengatakan berapa banyak pekerja asing itu di Korea, tetapi mereka jelas memenuhi sebuah ruang makan Samsung saat jam istirahat di kampus utama untuk perangkat mobile.

"Software adalah di mana kelemahan Samsung selama ini," kata salah satu engineer dari Pakistan, yang meminta bahwa ia tidak disebutkan namanya. "Hardware tidak terlalu menjadi masalah saat ini sehingga Samsung lebih menekankan pada pengembangan software dan perekrutan engineer dari luar."

Untuk itu, Samsung saat ini menyajikan masakan daging kari dan Halal di kantin mereka, terutama pada hari Jumat, yang memiliki sedikitnya 50 karyawan yang berasal dari India dan Pakistan.

"Samsung tidak bisa sampai ke tingkat berikutnya kecuali mereka menciptakan lingkungan yang dapat memupuk kreativitas untuk berkembang dan itulah apa yang selama ini dilakukan oleh Google," kata seorang engineer software. Dan Samsung saat ini memang dalam proses untuk menjadi perusahaan software yang akan bersaing secara langsung dengan Google maupun Apple dimasa yang akan datang.


Via WSJ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar