Kamis, 12 April 2012

Samsung akhiri kepemimpinan Nokia di pasar ponsel global


Samsung Electronics akhirnya mengakhiri kepemimpinan Nokia di pasar ponsel global selama 14-tahun pada kuartal pertama tahun ini, dengan mengalahkan pembuat handset asal Finlandia ini untuk pertama kalinya. Menurut jajak pendapat dari Reuters terhadap para analis industri menunjukkan rata-rata analis memprediksi Samsung telah menjual 88 juta ponsel pada bulan Januari sampai Maret, melebihi 83 juta ponsel Nokia yang terjual di kuartal ini.

Nokia telah mengumumkan total penjualan pada Rabu kemarin dengan peringatan kerugian dari bisnis ponsel pada kuartal pertama dan kedua. Samsung sendiri akan merilis angka triwulanan pada tanggal 27 April yang akan datang. Nokia telah berjuang keras selama beberapa tahun dalam persaingan smartphone, namun dominasinya di segmen low end yang telah menyelamatkan mereka untuk menjaga peringkat sebagai yang terbesar di dunia ponsel dalam hal total penjualan.

"Setelah 14 tahun sebagai pembuat ponsel global terbesar, terlemparnya mereka dari posisi teratas akan datang sebagai pukulan paling pahit bagi Nokia," kata Ben Wood, kepala riset di CCS Insight, yang telah mengikuti industri sejak tahun 1990-an. "Secara kontras situasi ini akan disambut dengan euforia oleh Samsung - mereka akan menari dari ruang rapat hingga ke lantai pabrik," kata Wood.

Nokia menjadi pembuat ponsel terbesar di dunia sejak tahun 1998 ketika kala itu mereka menyalip Motorola - dimana pada saat itu Samsung baru saja memasuki industri ponsel - dan mengendalikan sekitar 40 persen dari pasar selama bertahun-tahun sebelum Apple iPhone diresmikan pada tahun 2007, yang membuat booming smartphone.


Menurut analis Horace Dediu dari Asymco, pertumbuhan ponsel Samsung terutama berasal dari peningkatan penjualan smartphone mereka, sementara Nokia mengalami kegagalan dalam transisi dari feature phone ke smartphone. Bisnis smartphone Nokia bahkan terus menyusut dari puncaknya sebesar 24% pada Q3 2010 menjadi 14% di kuartal terakhir. Pada saat yang sama portofolio smartphone Samsung telah meningkat pesat dari 10% menjadi hampir 50%. Samsung mampu mengkonversi portofolio feature phone mereka menjadi smartphone sementara Nokia gagal melakukannya.

"Ini adalah semacam transisi yang hanya mungkin timbul dari niat strategis yang eksplisit dari bagian manajemen kedua perusahaan," kata Horace dalam blog pribadinya. "Permintaan pasar bisa mengarahkan Anda dalam berbagai arah, tapi visi masa depan harus memberikan kompas untuk membuat taruhan besar."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar