Minggu, 12 Desember 2010

Akhir tahun, Samsung Indonesia fokus ke bada


Menjelang akhir tahun, Samsung Indonesia mulai fokus untuk membangun ekosistem bada di Indonesia. Melalui sistem operasi bada, PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) menawarkan smartphone lengkap dengan harga featurephone. Faktor pendukungnya mulai lengkap, ada toko aplikasi Samsung Apps hingga kemudahan akses jejaring sosial lewat aplikasi Social Hub.

Samsung membuat bada, yang berarti 'samudra' dalam bahasa Korea, untuk mendemokratisasi smartphone, yang artinya ingin semua orang bisa menikmati smartphone. Mereka ingin mengangkat feature phone yang biasanya berharga murah dengan fitur yang pas-pasan ke arena smartphone dengan sebuah produk ponsel yang 'cerdas', tapi tetap tidak menguras kantong.

Sudah didukung oleh 3D Graphics, Flash, multipoint-touch, sensor gerak, koneksi ke jejaring sosial, LBS (location-based service), hingga in-application-purchase. Game dan aplikasi untuk bada di dukung oleh toko aplikasi Samsung Apps. Meski baru berusia setahun, Samsung Apps tumbuh dengan cepat, dan sudah tersedia dalam 80 negara, termasuk Indonesia.

Samsung telah fokus untuk terus mengembangkan toko aplikasi yang dirilis pertama kali pada September 2009 itu. Game-game populer seperti Guitar Hero (Mobile Bus), Spiderman (Gameloft), Tom Clancy’s H.A.W.X., 3D Tower Bloxx Deluxe, hingga Need for Speed (EA) bisa diunduh dengan ponsel bersistem operasi bada. Pabrikan game seperti Gameloft, Electronic Arts, Handmark, CrazySoft Limited, Paragon SW, Com2us, dan Shazam juga sudah siap membuat aplikasi/game untuk Samsung Apps.
Untuk menyempurnakannya, Samsung juga ikut mendorong developer dalam membangun ekosistem Samsung Apps melalui bada software development kit (SDK). SDK yang dapat diunduh secara gratis tersebut hadir dengan Application Programming Interfaces (APIs), IDE (Integrated Development Environment), simulator, hingga UI builder. Sejauh mana daya tarik bada bagi developer?

Menurut Fabiant Kayatmo, Product Marketing Senior Manager HHP Business Department PT SEIN, bisnis model yang terjalin antara Samsung dan developer lokal bisa sangat beragam.

"Bisa revenue share,beli putus, atau gratis.PT SEIN sendiri saat ini sedang bekerja sama dengan lima developer untuk mengembangkan aplikasi lokal," paparnya. Hingga kini, menurut Fabiant, jumlah aplikasi di Samsung Apps sekitar 1.700 dan 70 persen, di antaranya dapat diunduh secara gratis.

"Untuk yang bayar, nanti kita akan cari caranya. Entah melalui SMS premium atau micropayment, kita lihat nanti," paparnya.


Untuk perangkat hardwarenya, Samsung Indonesia berencana merilis 4 perangkat bada sekaligus, diantaranya Samsung Wave525, Wave533, Wave575 dan Wave II S8530. Semua smartphone ini akan dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari 1 jutaan hingga 3 jutaan rupiah. Dengan range harga seperti ini, maka diperkirakan akan sulit untuk mencari pesaing yang sepadan bila kita bicara soal "price for performance" atau "value of money". Ya, bada adalah platform "smartphones for everyone".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar